Agenda

TBM Pasuruan : 1. TBM Surabaya : 1.

Minggu, 04 Oktober 2009

TBM Nusantara Menjadi Matahari Nusantara

Bertempat di balai RT IV RW V Kelurahan Kali Rungkut, para pengurus TBM Nusantara yang rata-rata para ibu rumah tangga beserta perangkat RT duduk saling berdempetan. Mereka sedang menunggu dimulainya diskusi pembuatan program kerja TBM. Balai RT yang sekaligus direncanakan sebagai tempat TBM memang ukurannya tidak terlalu.besar, sekitar 4x 1,5 M. Terdapat dua ruang di dalam balai yaitu ruang depan untuk pelayanan warga dan bagian belakang yang digunakan sebagai gudang penyimpanan perlengkapan milik RT. Di antara kedua ruangan itu terdapat dinding batu bata yang berfungsi sebagai pembatas. Diskusi dilakukan di ruang pelayanan. Karena ruangan ini tidak terlalu besar maka beberapa peserta memilih duduk di luar bangunan. Sebelum menjadi TBM, rencananya dinding pemisah akan dihancurkan sehingga ruangan pelayanan yang menjadi tempat rak beserta buku akan menjadi lebih luas.

Diskusi dibuka oleh ketua TBM, Choirul Mahpuduah, biasa dipanggil ibu Irul. Kemudian pendamping TBM memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan acara diskusi berkaitan dengan pelatihan di Tretes yang telah selesai kurang lebih seminggu yang lalu. ”Jadi diskusi ini sebagai media untuk menyempurnakan program kerja yang sebelumnya telah dibuat pada saat pelatihan” demikian ungkap pendamping TBM. Lebih lanjut pendamping mengatakan, dengan hadirnya jumlah orang yang lebih banyak diharapkan dapat memberi masukkan atau ide-ide yang bersifat membangun.

Setelah penjelasan dari pendamping, acara dilanjutkan oleh ketua TBM. Dua lembar kertas plano bertuliskan program kerja TBM Nusantara 2009 tertempel di dinding balai. Dengan suara yang keras dan lugas, ketua TBM memaparkan program kerja. Sementara peserta duduk dilantai beralas karpet, dengan kepala agak mendongak ke atas melihat ke arah kertas plano. Sesekali mereka mengambil hidangan camilan seperti kue kering, kripik, serta sari kedelai sebagai minumannya.

Jarum jam terus bergulir, hari semakin siang. Terik sinar matahari terasa sudah. Hawa di dalam balai RT terasa hangat meskipun hembusan angin yang berasal dari kipas elektronik tidak pernah berhenti sedetikpun semenjak dimulainya diskusi jam 09.00. Siang itu, matahari menjadi saksi tersusunnya program kerja TBM baru di Surabaya, TBM Nusantara. Di antara program kerja itu adalah sosialisasi, kerja bakti, berbagai pelatihan dan unit usaha. Diharapkan TBM Nusantara senantiasa menjadi Matahari yang memberikan kehangatan bagi warga Kelurahan Kali Rungkut dan sekitarnya. Semoga!

TBM Puspa Indah, Berbenah Lewat Penyusunan Program Kerja

”Ibarat pisau jika tidak diasah maka ketajamannya semakin berkurang” Peribahasa itu merupakan salah satu cerminan yang menggambarkan kondisi TBM Puspa Indah. TBM yang di tahun 2008 mendapat Juara pertama Lomba TBM se Kotamadya Surabaya yang diadakan Badan Perpustakaan Kota Surabaya saat ini terus berbenah. Diawali dengan kegiatan diskusi pembuatan program kerja pada tanggal 14 Agustus 2009, malam hari, 19.00 WIBB. Acara tersebut diikuti oleh para pengurus TBM, Ketua RW III dan salah satu perwakilan pengurus RT.

Rini, penanggung jawab TBM, memaparkan program kerja yang telah dibuat pada saat pelatihan di Tretes. Salah satu program kerja yang disusun adalah pembuatan kamar mandi. Direncanakan bangunan tersebut berada di lahan yang berada di samping TBM. Rencana tersebut mendapat tanggapan beragam dari peserta. Hisyam, Ketua RW, mengatakan bahwa biaya pembuatan kamar mandi cukup besar dan untuk pemeliharaannya juga tidak mudah. ”Nanti kalau ada kamar mandi, orang-orang di sekitar sini, baik warga maupun bukan, bisa memanfaatkan fasilitas tersebut setiap saat tanpa kita bisa mengontrolnya”, sambung Yusriah, Ketua TBM. Mendengar komentar tersebut, Rini membatalkan program kerja pembuatan kamar mandi.

Suasana diskusi cukup menarik pada saat membicarakan pendanaan kegiatan. Hisyam menyampaikan bahwa selama ini aktivitas kegiatan TBM dan pengurusnya banyak dibantu pendanaan oleh RW. Misalnya, bila pengurus ada kegiatan pelatihan maka biaya transportasi berangkat dan pulang di bantu oleh RW. Namun hal tersebut tidak bisa dilakukan secara terus menerus karena RW sendiri memiliki keterbatasan sumber pendanaan sementara masih banyak pos lain yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, diusulkan agar pengurus TBM mendapatkan bantuan dana.

Menanggapi hal tersebut, pendamping TBM menyampaikan bahwa di tahun ke dua ini, diarahkan untuk kemandirian. Sebelum memasuki era tersebut maka setiap TBM dibekali dengan pengembangan capacity building. Selain itu, ada juga pengembangan unit usaha. Melalui unit usaha inilah diharapkan menuai hasil yang bisa dipergunakan untuk perputaran kas TBM.

Untuk menghimpun bantuan bagi pemenuhan kebutuhan TBM khususnya material, Ketua RT, mempunyai jejaring yang bisa diajak kerjasama. Namun hal tersebut bukanlah sebuah janji tetapi akan diusahakan semaksimal mungkin. Kebutuhan rak buku memang salah satu yang krusial karena koleksi buku mencapai ribuan.

Partisipasi dari pemangku kekuasaan tingkat RW dan RT dalam pengembangan TBM memang sangat diperlukan. Selain pengakuan akan keberadaan TBM, hal yang tidak kalah pentingnya adalah partisipasi dalam bentuk nyata seperti sumbangan untuk kegiatan TBM dalam bentuk apapun.

Tak terasa malam semakin larut. Sebelum mengakhiri diskusi, hidangan yang sudah dingin akhirnya bisa dilahap. Diskusi pembuatan program kerja menghasilkan beberapa kegiatan seperti rapat rutin pengurus, pengadaan koleksi buku dari berbagai pihak, pengadaan rak buku, sosialisasi, dan pelatihan ketrampilan.

Menyusun Program Cepat, Hasil Didapat

Cepat, ringkas dan tuntas. Begitulah penyusunan program kerja di TBM Wahana Baca Kedung Asem. Diskusi program kerja TBM diawali dengan pemaparan program kerja yang dibuat pada saat pelatihan di Tretes. Ketua TBM menyampaikan beberapa kegiatan yang nantinya dilakukan di tahun 2009 ini. Dengan penuh semangat, ketua TBM, Zaenul Arifin, menyampaikan pada para peserta yang saat itu terdiri dari 2 pengurus TBM, Ketua RW serta 1 pendamping dari YPPI.

Setelah sesi pemaparan selesai maka peserta dipersilahkan untuk memberikan pertanyaan maupun usulan terkait program kerja tersebut. Kesempatan ini tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh peserta. Sehingga hanya ada beberapa usulan maupun komentar dari peserta.

TBM Wahana Baca menjadi satu bagian dengan balai RW II Kedung Asem, di mana penyusunan program kerja tersebut berlangsung. Cat di bagian dinding luar, tampak sangat memudar. Tembok yang tadinya berlapis cat warna kuning menyala, saat ini terlihat berwarna agak putih. Di beberapa bagian dinding juga terlihat ada retakan-retakan. Warna cat memudar dan retakan-retakan di dinding menjadikan TBM seperti kurang terawat dengan baik. Di bagian dalam, kondisinya masih lebih baik dibandingkan dengan dinding bagian luar. Cat warna orange, biru masih kelihatan menyala meskipun ada penurunan gradasi warna. Ada bagian dinding yang catnya memudar dan terlihat seperti membentuk pulau-pulau kecil

Sore itu, udara di TBM terasa panas. Sinar matahari masuk melalui beberapa jendela kaca TBM. Para peserta terlihat gerah untuk beberapa lama. Selanjutnya, perlahan tapi pasti sinar matahari mulai beringsut meredup. Ini menunjukkan waktu memasuki malam hari. Diskusi pembuatan program kerja pun berakhir. Dia antara program kerja yang tersusun hari itu adalah ; rapat pengurus tiap bulan, cafe mini, halal bi halal, pelatihan daur ulang dan peringatan Tahun Baru Hijriyah yang di dalamnya terdapat kegiatan nonton Film, Bazar dll.

Jumat, 25 September 2009

TBM dalam Genggaman Generasi tak Lekang Oleh Waktu

Tua tua Keladi
Makin tua makin menjadi

Jika mengartikan secara positif peribahasa di atas, begitulah kira-kira gambaran suasana diskusi penyusunan program kerja TBM Mawar. Para pengurus TBM, selain serius mengikuti diskusi, tidak jarang pula memberikan komentar-komentar yang mengundang tawa satu sama lain. Hal ini menjadikan suasana diskusi terasa begitu akrab. Di antara hasil diskusi tersebut adalah direncanakan kegiatan pelatihan IT dan hibah buku untuk menambah koleksi TBM yang saat ini sudah mencapai 1000 eksemplar lebih.

TBM yang terletak di kompleks perumahan wilayah Rungkut Barata itu, tepatnya di gedung Balai RW IV, memiliki kekhasan tersendiri. Para pengurus TBM semuanya adalah ibu rumah tangga berstatus pensiunan dengan usia yang cukup berumur. Beberapa dari mereka pernah bekerja di instansi baik pemerintah maupun swasta dan di masa sekarang berupaya mengisi waktu luangnya melalui kegiatan di TBM.
Mereka sangat kompak dalam setiap aktivitas yang dilakukan di internal TBM maupun kegiatan yang digagas YPPI. Selain itu, para pengurus juga memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan pihak eksternal (selain YPPI). Hal ini dibuktikan dengan adanya sumbangan AC ke pihak TBM. Kombinasi antara solidaritas internal dengan fasilitas TBM yang lebih lengkap dibandingkan dengan TBM yang lain, sekali lagi mendapatkan sebuah apresiasi. Pada saat pelatihan di Tretes, seluruh TBM memberikan pilihan suaranya ke TBM Mawar untuk dijadikan TBM Digital.
Di tahun kedua ini, TBM sedang dipersiapkan untuk bisa mandiri baik dari segi manajemen maupun support material. Untuk itu diperlukan SDM yang mampu menunjang kebutuhan ke arah kemandirian. Kebutuhan akan SDM yang demikian juga sangat krusial di TBM Mawar. Oleh karena itu, semenjak bulan Agustus, direkrut tenaga relawan untuk membantu pengembangan TBM Mawar. Semoga dengan adanya relawan bisa memberikan semangat dan motivasi untuk lebih berkarya.

(Cukup) Sambil Menyelam Minum Air

Jarum jam menunjukkan .19.00 WIB, suasana masih tampak sepi di Balai RW IX Dukuh Kupang Timur. Terlihat seorang perempuan sedang sibuk menata kotak kardus berukuran kecil di sebuah meja. Titik, nama perempuan itu. Dengan ditemani dua anaknya, mempersiapkan konsumsi untuk acara pembuatan program kerja bagi TBM Kasih Bunda.

Direncanakan seluruh pengurus TBM beserta perangkat RW akan hadir. 15 menit berselang tampak dua perempuan paruh baya masuk ke serambi balai. Perempuan yang memakai kerudung adalah sekretaris TBM. Seorang lagi adalah Ketua PKK RW. Kemudian satu per satu para tamu undangan hadir. Malam itu Ketua RW tidak bisa hadir sehingga beliau digantikan oleh wakil RW. Ikut hadir beberapa tokoh masyarakat. Namun untuk pengurus TBM, tidak terlihat lagi adanya penambahan kehadiran.

Fokus diskusi rencananya membahas program kerja, namun dalam pembicaraan lebih banyak menyoroti tentang kondisi kepengurusan. Sejak setahun yang lalu kepengurusan TBM telah terbentuk. Di awal tahun, beberapa kegiatan telah dilaksanakan. Pelayanan perpustakaan juga berjalan dengan baik. Petugas layanan secara bergantian menjalankan tugasnya.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, lambat laun para pengurus dan petugas layanan mulai kurang aktif di TBM, hingga mencapai kondisi nadir pada saat ini di mana pelayanan hanya dilakukan seorang petugas saja tanpa ada pengganti. Memang ada perangkat RW yang membantu melayani peminjaman di saat petugas layanan sedang tidak bertugas. Tetapi ini sifatnya hanya sementara dan tergantung dari kesediaan perangkat RW, bukan sebuah system mapan yang bisa berjalan secara regular. Hal tersebut pada akhirnya menjadikan TBM berkembang tidak maksimal.

Untuk mengatasi masalah tersebut, recananya akan diadakan pertemuan dengan seluruh pengurus TBM dengan pokok bahasan khusus kepengurusan dan pengembangan TBM. Selain itu, dirasakan perlu melakukan sosialisasi lagi ke kelompok masyarakat yang potensial sebagai pemanfaat TBM, dalam hal ini adalah kelompok PKK RW. Oleh karena itu, tanggal 6 september 2009 akan melakukan sosialisasi TBM di forum arisan PKK RW.

Pembicaraan tentang permasalahan TBM Kasih Bunda sedikit mendapat intermezzo dengan hadirnya kotak kardus kecil. Tidak salah lagi, kotak tersebut adalah kotak kardus yang ditata oleh Titik sebelum dimulainya acara. Satu per satu setiap peserta mendapatkannya. Kotak tersebut berisi beberapa kue yang sangat menarik ditambah dengan segelas air mineral yang mengundang selera. Sampai akhirnya “nyam..nyamm…emm…enak” Seperti kata pepatah “sambil menyelam minum air”, begitulah kira-kira gambaran diskusi yang diselingi dengan acara makan kue. Hanya saja pepatah itu jangan lagi ditambah dengan kalimat “lalu tenggelam”, karena bisa jadi itu menjadi gambaran TBM Kasih Bunda jika permasalahan yang ada tidak bisa segera diselesaikan. Sayang……

Menabur Benih Literasi Informasi di Arenda

Hari itu, 11 Agustus 2009 merupakan waktu diskusi pembuatan program kerja bagi TBM Arenda Desa Kepulungan. Diskusi dilakukan di rumah ketua TBM, Aris hadi Susanto. Selain Ketua, pengurus yang hadir saat itu adalah bendahara. Acara dilaksanakan di saat hari efektif kerja sehingga hanya sedikit pengurus yang bisa hadir. Sedangkan mayoritas pengurus yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga tidak bisa mengikuti diskusi.

Meski demikian hal tersebut tidak mengurangi semangat untuk menyusun program kerja. Proses diskusi berjalan dengan sangat serius. Terlihat dari wajah ketua TBM dan bendahara yang tampak serius mengikuti jalannya diskusi. Hidangan pisang goreng yang telah disediakan bahkan tidak tersentuh sampai berakhirnya diskusi.

TBM Arenda merupakan salah satu TBM baru yang berada di wilayah Gempol, Pasuruan. Sebelum menjadi TBM, selama 2 tahun telah dilayani mobil Pustaka Sampoerna melalui kegiatan STO. Apresiasi warga begitu antusias atas layanan STO. Hal tersebut terlihat dari tingginya tingkat peminjaman buku, sehingga layanan STO tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan bahan bacaan warga.

Setelah menjadi sebuah TBM, diharapkan selain pelayanan perpustakaan akan ada kegiatan yang menumbuhkan kreatifitas. Program kerja yang telah didiskusikan adalah sebuah langkah awal dari misi transformasi literasi informasi. Melalui sebuah TBM yang menempati gedung Karang Taruna yang dibangun dengan dana swadaya Karang Taruna ini diharapkan juga muncul generasi yang kreatif dan aktif menumbuhkan ide-ide baru yang bermanfaat bagi warga, melalui program kerja yang telah disusun seperti studi banding dan bakti sosial. Viva Arenda Jaya!

Jumat, 18 September 2009

Pelatihan TBM Mandiri

TBM mandiri, mungkinkah? Tanpa support dari sponsor dan dampingan dari mitra mungkinkan mereka bisa eksis. Inilah yang ingin dijawab pada pelatihan TBM Mandiri bertajuk "Manajemen dan Keberlanjutan Kelompok Masyarakat, Menguatkan Organisasi Menuju TBM mandiri". Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan TBM untuk menuju mandiri baik secara manajemen maupun financial, sehingga secara bertahap mereka akan mampu eksis dan mengembangkan lembaganya.

Bertempat di Hotel Tretes View, mulai tanggal 7 hingga 9 Agustus 2009 pelatihan ini dilaksanakan. Diikuti oleh pengurus TBM dari Surabaya, Pasuruan dan Karawang, jumlah seluruh pesertanya 36 orang. masing-masing TBM mengirimkan 3 orang pengurusnya untuk mengikuti pelatihan ini. Ada 4 orang nara sumber yang memberikan materi dan tiga fasilitator yang selalu mendampingi setiap proses pelatihan. Teno Firdaus, dari Plan Internasional Surabaya yang memberikan materi Pengenalan Lembaga dan Pembuatan SOP, materi kedua disampaikan Wiwit Sri Ariyani yang pernah aktf di Save The Children.

Pemateri lainnya dari YPPI sendiri, Direktur YPPI, Trini Haryanti dan Hizbulloh Huda selaku kordinator IT di YPP yang memberikan materi tentang data base. Dalam pelatihan tersebut juga turut hadir Meta Rostiawati, Corporate Affair manager PT HM Sampoerna Tbk, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan (to be continued)




 
tbm-online. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.